mbak

Tepat di tengah-tengah lapangan itu ada bangku panjang. Aku dan adikku hanya saling melirik heran. Kok ada bangku di tengah lapangan ya? Kami pun buru-buru berjalan ke kamar mandi. Selesai dari kamar mandi, kami ingin cepat-cepat kembali ke mobil. Pada saat berjalan balik entah kenapa aku dan adikku merasakan hembusan angin yang begitu kuat. Dan kami merasa berjalan cepat tapi gak sampai-sampai.

Sampai akhirnya adikku menoleh ke arah bangku panjang yang ada di tengah lapangan. Mba, lihat deh itu apaan? Aku pun menoleh ke arah yang adikku tunjuk. Kami sama-sama melihat seorang wanita dengan rambut panjang, berbaju putih sedang duduk dengan menundukan kepalanya. Kami berdua terpaku melihat sosok itu. Gemetar, keringat dingin dan ingin menangis bercampur jadi satu.

Kami tidak dapat bergerak, sampai akhirnya kami berdua melihat wanita itu berdiri lalu menunjukan wajahnya yang pucat lalu terbang menghilang entah kemana. Setelah itu kami berdua pun bisa bergerak dan berlari sambil menangis menuju mobil. Dengan perasaan yang kacau balau, kami berdua di tenangkan oleh kedua orang tua juga adik laki-lakiku. Mama dan adik laki-lakiku yang indigo berkata bahwa kuntilanak tadi mau kenalan sama aku dan nenda. Kami berdua pun berteriak. “Gak mau”.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s